Kamis, 14 Maret 2013

PELAKSANAAN PENILAIAN KELAS: PENETAPAN INDIKATOR, PEMETAAN SK, KD, INDIKATOR, PENETAPAN TEKNIK PENILAIAN, CONTOH ALAT, DAN PEDOMAN PENSKORAN



PELAKSANAAN PENILAIAN KELAS:
PENETAPAN INDIKATOR, PEMETAAN SK, KD, INDIKATOR, PENETAPAN TEKNIK PENILAIAN, CONTOH ALAT, DAN PEDOMAN PENSKORAN

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas Mata Kuliah “Model Penilaian Kelas”

Oleh
Slamet Riyadi            : 210310192
M. Abdul Khakim     : 210310193
Aditya Firmansyah   : 210010194
Ahmad Farhan          : 210310195

Dosen Pengampu:

Drs. Ju’Subaidi, M.Ag


Jurusan Tarbiyah
Program Studi Pendidikan Agama Islam
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
SEPTEMBER 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendididkan dapat dilakukan melalui sistem penilaian. Penilaian kelas digunakan untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek dengan menggunakan ukuran atau kriteria.
Dalam penilaian proses dan hasil belajar siswa di sekolah, aspek-aspek yang berkenaan dengan pemilihan alat pemilihan, penyusunan, pengolahan, data hasil penilaian, termasuk juga penetapan indikator, pemetaan SK, kompetensi dasar , penetapan teknik penilaian, serta pedoman penskoran.
Sayangnya, dunia pendidikan saat ini belum secara keseluruhan tenaga pengajarnya memahami dan bisa mengaplikasikan tentang model penilaian kelas yang baik, sehingga menimbulkan keperihatinan yang mendalam akan kondisi seperti ini.
Dalam makalah ini, dijelaskan tentang pelaksanaan penilaian kelas dengan maksud menambah literatur dan pembekalan bagi calon tenaga pendidik di era mendatang sehingga diharapkan mempunyai wawasan dan keterampilan dalam bidang penilaian.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menetapkan indikator pencapaian hasil belajar?
2. Bagaimana menetapkan teknik penilaian?
3. Apa saja alat yang digunakan dalam penilaian serta cara penskorannya?

BAB II
PEMBAHASAN

Salah satu bagian dalam suskesnya pengajaran adalah bagaimana seorang guru melakukan penilaian kelas. Terdapat berbagai pedoman dalam melakukan penilaian kelas, dalam pelaksanaannya harus memperhatikan beberapa aspek. Adapun tahapan-tahapan dalam pelaksanaan penilaian kelas adalah sebagai berikut.
Penilaian pembelajaran adalah penilaian terhadapa pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum[1]. Mengingat dibutuhkannya tindak lanjut dari evaluasi atau penilaian, Suharsimi dalam bukunya menerangkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu (pemelajaran siswa), yang selanjutnya digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan[2].

A. Penetapan Indikator Pencapaian Hasil Belajar.
Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan, atau proses yang berkontribusi atas tercapainnya suatu kompetensi dasar. Bagian dari penetapan indikator hasil belajar adalah pemetaan standart kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Hal itu dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian. Indikator dirumuskan menggunakan kata kerja yang dapat diukur, seperti menghitung, membedakan, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan.
Indikator pencapaian hasil belajar dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemempuan peserta didik. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua indikator atau lebih, hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar tersebut. Indikator pencapaian hasil belajar dari setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang dilakukan untuk melakukan penilaian.
Contoh penetapan SK dan KD dan indikator:
Mata pelajaran       : Bahasa Indonesia
Kelas                     : Tiga
Semester                : Genap


Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Menulis, mengungkapkan pikiran,perasaan dan informasi dalam kerangka sederhana dan puisi.
Menulis puisi berdasarkan gambar dengan pilihan kata yang menarik.
·           Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri kalimat dalam puisi.
·         Siswa dapat menulis puisi dengan benar.

Indikator dikembangkan oleh guru sekolah sesuai dengan kondisi daerah dan sekolah masing-masing. Satu KD dapat dikembangkan menjadi satu atau lebih indikator[3]. Indikator pencapaian kompetensi, yang menjadi bagian dari silabus, dijadikan acuan dalam merancang penilaian[4].
Dengan melihat sebagian contoh silabus di atas maka terlihat dengan jelas perbedaan dalam penyusunan dan pengaplikasian kurikulum KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum sebelum KTSP hanya terpaku atas peraturan pusat, sedangkan dalam KTSP sendiri guru bisa dengan leluasa untuk mengembangkan sendiri kompetensi dasar menjadi indikator yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.


B. Penetapan Teknik Penilaian.
Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik dalam proses maupun hasil belajar. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Berdasarkan indikator-indikator ini dapat ditentukan cara penilaian yang sesuai, apakah dengan tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan individu maupun kelompok. Untuk itu ada tujuh teknik penilaian yang dapat digunakan, yaitu penilaian untuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri[5].
Secara umum penilaian berbasis kelas antara lain terdiri atas ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum. Tentunya, guru harus yakin dan pandai dalam memilih teknik penilaian disetiap jenjang dengan metode yang sesuai[6].
Dalam memilih teknik penilaian, harus memprtimbangkan ciri-ciri indikator. Contoh dari penetapan teknik penilaian :
1.  Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu maka teknik penilaiannya adalah unjuk kerja.
2.  Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis.
3.  Apabila tuntutan indikator memuat tentang unsur penyelidikan, maka teknik penilaiannya adalah proyek tindak lanjut[7].
Guru yang sudah banyak berpengalaman mengajar dan menyusun soal, terkadang belum mengetahui kekurangannya. Apabila keadaan setelah hasil tes dianalisatidak seperti yang diharapkan dalam kurva normal, maka tentu ada problem dengan soal tesnya[8].
Diantara penyebab tidak maksimalnya pembelajaran yang bisa dilihat melalui penilaian adalah:
1. metode tidak sesuai engan tujuan.
2. adanya masalah dalam pelaksanaan.
3. metode penilaian tidak sesuai.
4. rumusan tujuan tidak realistis[9].

C. Alat dan Penskoran dalam Penilaian.
Alat-alat penilaian yang digunakan guru dalam proses penilaian di sekolah dapat berupa alat penilaian standar dan alat penilaian buatan guru sendiri. Sebagian aliran perilaku berpendapat bahwa peralatan diperlukan bukan sebai alat penyaji, tetapi untuk penguat saja. Kecuali itu juga diajukan bahwa untuk tujuan tertentu, peralatan dapat dan perlu menggantikan peranan guru[10].
Alat penilaian standar bersumber dari pemerintah atau lembaga pembuat alat-alat penilaian, sedangkan penilaian guru bersumber dari guru di sekolah.  Sebuah alat penilaian yang sudah distandarisasikan sudah dapat disebut sebagai alat penilaian standar, biasanya dilengkapi dengan sebuah manual. Manual ini memuat keterangan-keterangan atau petunjuk-petunjuk yang diperlukan dalam menjelaskan pelaksanaan, penskoran dan mengadakan interpretasi.
Baik alat penilaian standar maupun buatan guru, keduanya memiliki kegunaan yang besar dalam penilaian proses dan hasil belajar siswa di sekolah. Keunggulan alat penilaian standar adalah teruji keautentikannya, namun terkadang tidak diaplikasikan secara sepenuhnya karena keadaan sekolah yang beraneka ragam, oleh karenanya alat penilaian buatan guru dianggap lebih sesuai yang dalam pembuatannya terjun langsung kelapangan[11].
Secara umum alat dalam penilaian hasil belajar dibagi menjadi dua kriteria, yaitu penilaian berbasis tes dan penilaian non tes. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Meskipun demikian, terkadang tes dapat digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar bidang afektif dan psikomotorik. Ada dua jenis tes, yakni tes uraian dan tes objektif.
1. Tes uraian
Tes uraian merupakan alat penilaian yang paling kuat. Secara umum tes ini berupa pertanyaan yang menuntut siswa untuk menjawabnya dalam bentuk penguraian, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberi alasan, dan menuntut untuk menjawab pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian tes ini bisa menjadi sebagai tolak ukur kemampuan siswa dibidang kognitif.[12]
Model penilaian ini dapat dilaksanakan selama proses pembelajaran, ulangan harian, ulangan tengah semester, atau ulangan kenaikann kelas.
Aspek : Mendengarkan
Standart Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Memahami siaran atau certa yang disampaikan secara langsung / tidak langsung
Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita).
Menuliskan isi siaran berita dalam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami.


Langkah:
1. Dengarkan rekaman siaran berita berikut dengan seksama.
2. Tulislah isi siaran berita tersebut dalam beberapa kalimat dengan memperhatikan ketepatan isi, struktur kalimat, koherensi, ejakan dan tanda baca.
3. Bacakan hasil pekerjaan di depan kelas.
4. Format penilaian kelas
No.
Nama.
Aspek yang dinilai
Skor
Nilai
Ketepatan isi
Struktur kalimat
Koherensi
Ejaan dan tanda baca
1.
Ahmad
3
4
2
3
12
75
2.
Bardi
4
4
4
4
16

3.
Dst.







Keterangan:
1. Tidak tepat
2. Kurang tepat
3. Tepat
4. Sangat tepat
Skor perolehan
Nilai siswa : ----------------------------------------------------------------- x 100
Skor maksimum
                                                                    12
Nilai Ahmad : --------- x 100 = 75
                         16
2. Tes pilihan ganda dan uraian
Model penilaian ini dilaksanakan setelah pembelajaran berlangsumg, ulangan harian, UTS, atau UAS.
Aspek: Membaca
Standart kompetensi: Memahami berbagai teks bacaan non sastra dengan berbagai teknik membaca.
Kompetensi dasar: Mengidentifikasi ide pokok teks non sastra dari berbagai sumber melalui teknik membaca ekstensif.
   Indikator:         1. Mengidentifikasi ide pokok tiap paragraf.
                      2. Menuliskan kembali isi bacaan secara ringkas dalam  beberapa kalimat.
Petunjuk: Bacalah teks bacaan berikut dengan seksama.
Perkembangan teknologi dewasa ini sangat pesat. Hal ini ditandai oleh banyaknya barang elektronik yang beredar di masyarakat. Pemunculan barabg tersebut sudah sampai dikalangan masyarakat menengah ke bawah. Ada yang dikategorikan barang mewah, ada pula yang dikategorikan bukan barang mewah.
Soal.
1. Ide pokok paragraf pertama adalah ...
A. Pesatnya perkembangan teknologi saat ini.
B. Banyaknya peredaran barang elektronik.
C. Pemunculan barang elektronik di masyarakat.
D. Banyaknya barang mewah yang beredar.
E. Perkembangan barang elektronik yang mewah.
2.Tulislah isi bacaan secara ringkas dalam beberapa kalimat dengan memperhatikan...
A.  Ketepatan isi.
B. Struktur kalimat.
C. koherensi.
D. Ejaan dan tanda baca.
Format Penilaian Karangan (Soal no. 2)
No
Nama
Aspek yang dinilai
Skor
Nilai
Ketepatan isi
Struktur kalimat
Koherensi
Ejaan &tanda baca
1
Budi






2
Parman






3







3. Penilaian non test
Penilaian non test adalah penilaian dengan tanpa menggunakan test, namun bisa dengan menggunakan pengamatan, atau penelitian, bahkan mencari referensi dari teman objek.
Contoh penilaian ini adalah dalam aspek sikap
No
Nama
Perilaku
Skor
Nilai
Ket.
Mendengarkan berita
Mengerjakan tugas
Membacakan hasil pekerjaan
Menghargai teman
1
Amar
5
5
5
5
20
100
A
2
Ma’ruf
4
5
4
4
17
85
B
3
Munkar
3
2
2
3
10
50
C -

a. kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria.
            1. 1 = sangat kurang.
            2. 2 = kurang
            3. 3 = Cukup
            4. 4 =  Baik
            5. 5 = Sangat Baik
b. keterangan juga diisi dengan kriteria.[13]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari serangkaian uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendididkan dapat dilakukan melalui sistem penilaian. Penilaian kelas digunakan untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek dengan menggunakan ukuran atau kriteria.
Perumusan Indikator Atas SK dan KD oleh guru harus memperrtimbangkan keadaan sekolah dan peserta didik, inilah yang menjadikan karakteristik uta KTSP ini.
Berbagai alat penilaian, diantaranya adalah test dan non test. Pemilihan metode ini juga mempengaruhi bagaimana dalam memberikan skor kepada para siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara, 2009.
Arikunto, Suharsimi,Dkk. Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta:Bumi Aksara,2008.
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar,Jakarta:Bumi Aksara,2009.
Harjanto,Perencanaan Pengajaran,Jakarta:Rineka Cipta,1997
Jihad, Asep.dan Haris, Abduh. Evaluasi Pembelajaran,Yogyakarta:Multi Pressindo,2012.
Komalasari, Kokom Pembelajaran Kontekstual,Bandung:Refika Aditama,2012.
Setijadi, Definisi Teknologi Pendidikan,Jakarta:Raja Grafindi Perkasa,1994
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,Bandung:Remaja Rosdakarya,Bandung,2009.
Suwandi, Sarwiji. Model Asesmen Dalam Pembelajaran, Surakarta:Yuma Pustaka,2011.
Surapranata, Sumarna.dan Hatta, Muhammad. Penilaian Portofolio,Bandung:Remaja Rosdakarya,2007..










[1] Harjanto,Perencanaan Pengajaran,(Jakarta:Rineka Cipta,1997),hal.277.
[2]  Suharsimi Arikunto, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara,2008),hal.2.
[3] Sarwiji Suwandi, Model Asesmen Dalam Pembelajaran, (Surakarta:Yuma Pustaka,2011),hal.141-143
[4]  Asep Jihad, Evaluasi Pembelajaran,(Yogyakarta:Multi Pressindo,2012),hal.118.
[5]  Ibid 98.
[6] Sumarna Surapranata, Penilaian Portofolio,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2007),Hal.18.
[7]  Sarwiji Suwandi, Model Asesmen Dalam Pembelajaran, (Surakarta:Yuma Pustaka,2011),hal.
148.
[8]  Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2009),hal.204. 
[9] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,(Jakarta:Bumi Aksara,2009),hal.150.
[10] Setijadi, Definisi Teknologi Pendidikan,(Jakarta:Raja Grafindi Perkasa,1994),hal.49.
[11]  Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual,(Bandung:Refika Aditama,2012),hal.168-170
[12] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,Bandung),hal.35-43.
[13] Sarwiji Suwandi, Model Asesmen Dalam Pembelajaran, (Surakarta:Yuma Pustaka,2011),hal.155-160.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar